Buku KUTAIB dibawa siswa setiap harinya agar mempermudah dalam pencatatan kegiatan positif maupun negatif yang dilakukan siswa. Bagi siswa yang telah melakukan pelanggaran dengan akumulasi lebih dari 25 akan diberikan penanganan dan bimbingan agar dapat memperbaiki sikap menjadi lebih baik.


Pendidikan karakter dalam menghadapi revolusi industri 4.0 saat ini sangat penting bagi dunia pendidikan. Revolusi industri 4.0 adalah sistem yang mengintegrasikan dunia online dengan produksi industri, maupun bidang lainnya yang mulai menggunakan teknologi digital dan otomatisasi. Revolusi industri generasi keempat ini ditandai dengan kemunculan superkomputer, robot-robot pintar, kendaraan tanpa pengemudi, editing genetik dan perkembangan neuroteknologi yang memungkinkan manusia untuk lebih mengoptimalkan fungsi otak, inilah yang disampaikan oleh Klaus Schwab, Founder dan Executive Chairman of the World Economic Forum dalam bukunya The Fourth Industrial Revolution. Maka pendidikan karakter dalam dunia pendidikan harus dikembangkan dan dipertahankan. Model sekolah unggulan pasti memiliki banyak cara untuk membuat siswa mereka lebih siap dan sanggup dalam menghadapi revolusi generasi keempat ini.
Salah satunya pendidikan karakter yang ditanamkan di sekolah model unggulan adalah menanamkan kegiatan-kegiatan positif yang bisa membuat para siswa menjadi lebih siap. Peran sekolah sebagai salah satu piranti pendidikan adalah dengan selalu mengikuti perkembangan teknologi dan informasi terbaru dalam kehidupan, sehingga dapat mengarahkan siswa untuk menyikapi setiap informasi yang mereka terima.
Di SMK Muhammadiyah Wonosari telah menanamkan pendidikan karakter dalam menghadapi revolusi industri pada saat ini, pendidikan karakter ini tertuang dalam kegiatan-kegiatan yang dibiasakan sekolah, agar siswa terbiasa dan menjadi kebiasaan yang luar biasa. Sebagai upaya pembentukan sekaligus pembiasaan pendidikan karakter di sekolah, SMK Muhammadiyah Wonosari memberikan buku saku yang diberi nama KUTAIB. KUTAIB merupakan buku saku siswa yang berisi tata tertib sekolah, catatan pendidikan karakter yang dilakukan siswa serta hal-hal yang tidak boleh dilakukan siswa beserta poin-poinnya apabila dilanggar.
Buku KUTAIB dibawa siswa setiap harinya agar mempermudah dalam pencatatan kegiatan positif maupun negatif yang dilakukan siswa. Bagi siswa yang telah melakukan pelanggaran dengan akumulasi lebih dari 25 akan diberikan penanganan dan bimbingan agar dapat memperbaiki sikap menjadi lebih baik.
Adapun karakter-karakter yang ditanamkan SMK Muhammadiyah Wonosari untuk siswanya dalam menghadapi revolusi industri 4.0 diantaranya:
Integritas adalah konsistensi dan keteguhan yang tak tergoyahkan dalam menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dan keyakinan. Integritas menjadi karakter kunci bagi seorang pemimpin. Seorang pemimpin yang mempunyai integritas akan mendapatkan kepercayaan (trust) dari yang dia pimpin. Pimpinan yang berintegritas dipercayai karena apa yang menjadi ucapannya juga menjadi tindakannya. Kegiatan sekolah yang menggambarkan integritas adalah berorganisasi, sekolah mempunyai beberapa organisasi yang bisa diikuti oleh siswa. Contohnya organisasi Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Komando Kesiapsiagaan Muhammadiyah (KOKAM), dan Kader UKS. Dari ketiga organisasi ini mempunyai banyak kelebihan di dalamnya, yang bisa membuat siswa menjadi lebih berwawasan dan mempunyai banyak pengalaman. Pertama, Ikatan Pelajar Muhammadiyah atau biasa disebut dengan IPM adalah organisasi Muhammadiyah yang digerakkan para pelajar Muhammadiyah yang beramal ma’ruf nahi munkar. Kedua, Komando Kesiapsiagaan Muhammadiyah atau biasa disebut dengan KOKAM adalah organisasi Muhammadiyah yang bergerak di bidang sosial yang lebih tepatnya adalah organisasi yang menjaga keamanan. Ketiga, Kader UKS adalah organisasi yang bergerak di bidang sosial. Ketiga organisasi ini diharapkan dapat membentuk sifat integritas di dalam diri para siswa. Agar siswa bisa menjadi pemimpin yang dipercaya, bisa menjadi kader-kader yang diharapkan bangsa, dan dengan begitu revolusi industri dapat dihadapi dengan baik oleh para siswa.
Mandiri merupakan karakter yang harus ditanamkan sejak dini oleh para orang tua ataupun para guru dalam mendidik anak-anaknya. Karakter mandiri adalah karakter tahan banting dan tangguh dalam diri seseorang, karakter ini harus ditanamkan pada siswa dalam menghadapi revolusi industri 4.0 ini. SMK Muhammadiyah Wonosari telah mengadakan event-event yang membuat para siswa tahan banting terhadap sesuatu dan tentunya tangguh terhadap apa yang dialami. Event-event atau kegiatan-kegiatan yang rutin pada setiap tahunnya diadakan dalam mendukung terbentuknya karakter ini seperti kegiatan kemah dan hiking. Kegiatan ini sangat cocok dalam membentuk karakter mandiri pada diri seorang siswa. Dalam kegiatan ini siswa pastinya tidak akan bergantung pada seseorang apalagi pada orang tua mereka. Ketika mereka melakukan kegiatan ini tentunya mereka akan berkerja sendiri, berpikir sendiri atau mandiri dalam arti membentuk karakter mandiri dalam menghadapi revolusi industri.
Gotong royong adalah karakter melakukan secara bersama-sama suatu pekerjaan fisik yang berat agar pekerjaan yang awalnya berat menjadi ringan dan mudah. Gotong royong juga berarti bekerja bersama-sama untuk mencapai suatu hasil yang memuaskan. Karakter ini ditanamkan SMK Muhammadiyah Wonosari dari beberapa kegiatan sekolah, sebagai contoh pemilihan IPM, jum’at bersih, classmeeting. Pertama, Jum’at bersih adalah kegiatan yang dilakukan sebagian siswa (secara bergiliran) untuk membersihkan sekolah khusunya pada teras ataupun halaman sekolah pada setiap hari Jum’at. Disetiap hari Jum’at ini diwakili satu kelas (secara bergiliran setiap minggunya) untuk membersihkan sekolah dengan diawasi oleh beberapa IPM yang mengkoordinir jalannya jum’at bersih ini. Kedua, classmeeting adalah kegiatan para siswa yang dilakukan setelah para siswa selesai menghadapi ujian akhir semester. Bisa dikatakan sebagai refreshing para siswa setelah berpikir berat. Classmeeting ini dikoordinir juga oleh para IPM. Karakter gotong royong ini dapat membuat para siswa saling bekerjasama dalam menyikapi dan menghadapi revolusi industri.
Nasionalisme bisa dikatakan sebagai melestarikan budaya. Memudarnya rasa nasionalisme pada generasi muda akhir-akhir ini semakin jelas terlihat. Hal ini menjadi salah satu penyebab menurunnya karakter anak-anak bangsa. Hal ini terjadi karena generasi muda tidak mampu mengendalikan diri dan menyaring budaya masuk yang sesuai dengan budaya bangsa Indonesia. Sehingga para pelajar dan anak bangsa mengikuti budaya barat dengan alasan trend, padahal budaya barat bertentangan dengan budaya kita. Maka dari itu SMK Muhammadiyah Wonosari membiasakan para siswanya agar memiliki karakter nasionalisme, seperti upacara, mengucapkan salam dan kegiatan Gemar Membaca hari Jum’at. Pertama, upacara bendera yang dilakukan semua warga sekolah pada hari Senin merupakan pembentukan karakter nasionalisme yang diharapkan dapat mampu mengingatkan siswa dalam mengenang jasa para pahlawan yang telah gugur dalam merebut kemerdekaan dahulu, sehingga diharapkan dapat membuat para siswa merasa iba dengan perjuangan para pahlawan dan sehingga dapat menumbuhkan rasa nasionalis dalam mempertahankan kemerdekaan ini. Kedua, mengucapkan salam ketika akan masuk ruangan ataupun ketika bertemu dengan seseorang, kebiasaan ini sangat ditanamkan pada siswa. Diharapkan dapat menjadi kebiasaan yang sulit terlupakan dan dapat menjadi kebiasaan yang dapat dititu oleh orang lain yang belum menjadi kebiasaannya. Ketiga, kegiatan Gemar Membaca hari Jum’at adalah salah satu kegiatan yang sangat bagus untuk mengembangkan karakter nasionalisne pada diri seorang siswa. Para siswa dibiasakan literasi agar dapat menambah wawasan dalam menyikapi dan menghadapi revolusi industri.
Religius adalah sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain (Suparlan, 2010). Pembentukan karakter religius terhadap siswa ini tentu dapat dilakukan jika seluruh komponen stake holders pendidikan dapat berpatisipasi dan berperan serta, termasuk orang tua dari siswa itu sendiri (E-learning Pendidikan, 2011). Telah ditanamkan beberapa kegiataan yang sudah menjadi kegiatan para siswa disetiap harinya, seperti tadarus pagi dan sholat berjamaah. Pertama, tadarus pagi sangat wajib dijalankan oleh para siswa di SMK Muhammadiyah Wonosari, dalam kurun waktu kurang lebih 15 menit setelah bel masuk sekolah berbunyi para siswa langsung tadarus Al-Qur’an setiap paginya. Tanpa disuruh para siswa ketika bel masuk sekolah sudah berbunyi mereka langsung mengambil Al-Qur’an mereka dan langsung tadarus pagi bersama-sama. Tadarus pagi ini dilakukan pada tiap-tiap kelas, dengan diadakannya khatam siswa menjadi lebih bersemangat dalam bertadarus. Kedua, sholat berjamaah merupakan agenda wajib juga yang dijalankan para siswa, khusunya pada sholat Dzuhur. Sholat berjamaah ini dilakukan di masjid agung Wonosari yaitu Masjid Al-Ikhlas pada setiap hari sekolah. Ada juga kegiatan yang rutin dilaksanakan sehabis sholat dzuhur berjamaah, yaitu kultum. Kultum dilaksanakan oleh wakil tiap-tiap kelas secara bergiliran disetiap harinya.